Rumah untuk Seorang Anak Laki-Laki


Rumah untuk Seorang Anak Laki-Laki

Sudip yang berusia sebelas tahun sangat ketakutan ketika ayahnya tiba-tiba jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit di Nepal. Apa yang salah dengan ayah? Apa yang akan terjadi nantinya?

Dokter dengan hati-hati memeriksa fungsi hati ayah. Ternyata hati ayah tidak berfungsi dengan baik. Dokter dengan hati-hati memeriksa ginjal ayah.

Namun, ginjalnya tidak berfungsi dengan baik. Dokter dengan hati-hati memeriksa paru-paru ayah. Paru-paru ayah juga tidak berfungsi dengan baik. Kemudian dokter memeriksa jantung ayah dengan teliti. Jantungnya tidak berfungsi dengan baik.

"Ini sangat buruk," kata dokter. "Organ-organ tubuh ayah mengalami kerusakan karena kebiasaannya minum minuman beralkohol."

Ayah bekerja sebagai tukang bangunan yang membangun rumah. Tetapi dia juga telah minum banyak alkohol selama hidupnya. Ketika dia pulang kerja, dia akan meminum alkohol. Di rumah pada malam hari, juga meminum alkohol. Kadang-kadang, ketika dia bangun di pagi hari, dia akan meminum alkohol. Alkohol telah meracuni tubuhnya, dan ia berada dalam kondisi yang sangat buruk.

Sudip khawatir apa yang akan terjadi selanjutnya. Ibu juga memikirkan apa yang akan terjadi kemudian. Ayah adalah satu-satunya orang yang mencari nafkah dalam keluarga.

Dokter mengatakan bahwa ia telah melakukan semua yang ia bisa untuk membantu ayah. "Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa," katanya.

Namun, pengobatan itu tidak membantu. Fungsi hati ayah berhenti bekerja. Bahkan ginjalnya pun berhenti bekerja. Paru-parunya juga berhenti bekerja. Kemudian jantungnya pun berhenti bekerja.

Hari itu adalah hari yang sangat kelam bagi Sudip dan ibu ketika ayah meninggal.

Sudip menangis dan terus menangis. Ibu menangis dan tak henti-hentinya menangis.

Beberapa hari berlalu. Sudip sudah mulai tenang, tetapi ibu masih terus menangis. Ibu khawatir bagaimana ia akan memberi nafkah untuk Sudip. Ibu juga khawatir siapa yang akan membiayai peralatan sekolah dan pakaian baru Sudip.

Sudip tidak tahu bagaimana ia bisa membantu ibu. Dia baru berusia 11 tahun. Jadi, ia menangis bersama ibunya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.

Ibu dan anak itu menangis dan terus menangis.

Ketika semuanya tampak tanpa harapan, ibu mendengar tentang sebuah panti asuhan di mana anak-anak miskin dapat tinggal dan belajar. Panti asuhan itu dikelola oleh jemaat Masehi Advent Hari Ketujuh dari Korea Selatan.

Ibu telah mendengar tentang Advent beberapa bulan sebelumnya, dan dia ingin pergi ke Gereja Masehi Advent hari Ketujuh pada hari Sabat. Tetapi ayah melarangnya untuk pergi.

Tip Cerita

> Tunjukkan kepada anak-anak lokasi Nepal di peta. Anda juga dapat menunjukkan kepada mereka lokasi pedesaan Gadhi di Nepal Timur di mana Persembahan Sabat  Ketiga Belas triwulan ini akan membantu sebuah taman kanak-kanak berkembang menjadi sekolah dasar.

> Ucapkan Sudip sebagai: SOO-dip.

> Unduh foto-foto di Facebook: bit.ly/ fb-mq.

> Unduh Posting Misi dan Fakta Singkat dari Divisi Asia Selatan: bit.ly/sud-2024.

> Kisah misi ini mengilustrasikan tujuan berikut dari rencana strategis Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh “I Will Go”: Tujuan Pertumbuhan Rohani No. 5, “Memuridkan individu dan keluarga ke dalam kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus”; Tujuan Rohani No. 6, “Meningkatkan aksesi, retensi, reklamasi, dan partisipasi anak, remaja, dan dewasa muda”; dan Tujuan  Rohani No. 7, “Untuk membantu kaum muda dan dewasa muda menempatkan Tuhan sebagai yang pertama dan memberikan contoh pandangan yang alkitabiah.” Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs web: IwillGo2020.

Komentar