YANG KUDUS DARI ISRAEL

 27 JANUARI


YANG KUDUS DARI ISRAEL

"Anakku akan mereka segani"—Matius 21: 37.

Dengan hati seorang bapa, Allah menanggung bersama umat-Nya. Ia memohon kepada mereka yang memberikan belas kasihan dan pengasihan ditarik kembali. Dengan sabar Ia memaparkan dosa-dosa mereka di hadapan mereka dan dengan panjang sabar menunggu pengakuan mereka. Nabi-nabi serta juru kabar-juru kabar dikirim untuk mendesakkan tuntutan Allah kepada para penggarap; tetapi gantinya mereka itu diterima, mereka diperlakukan sebagai musuh. Para penggarap itu menganiaya dan membunuh mereka. Allah tetap mengirim juru kabar-juru kabar yang lain, tetapi mereka menerima perlakuan yang sama seperti yang pertama, penggarap-penggarap itu malah menunjukkan kebencian yang lebih besar lagi.

Sebagai jalan yang terakhir, Allah mengirim Anak-Nya, dengan berkata, "AnakKu akan mereka segani." Tetapi perlawanan mereka menunjukkan keinginan membalas dendam dan mereka berkata satu sama lain, "la adalah ahli waris, mari kita bunuh Dia, supaya warisan-Nya menjadi milik kita." Kita akan dibiarkan mengurus kebun anggur ini, dan kita dapat memperlakukan hasilnya sesuka hati kita.

Para pemimpin Yahudi tidak mengasihi Allah; oleh sebab itu mereka memutuskan hubungannya dari Allah dan menolak semua tawaran-Nya untuk suatu penyelesaian yang adil. Kristus, yang dikasihi Allah, datang untuk menyatakan tuntutan Pemilik kebun anggur; tetapi para penggarap memperlakukan Dia dengan sikap remeh secara terang-terangan, mereka berkata, "Kita tidak mau orang ini memerintah kita." Mereka cemburu terhadap keindahan tabiat Kristus. Cara mengajar-Nya jauh lebih unggul dari cara mereka, dan mereka iri hati atas kesuksesan-Nya. Ia mencela mereka, membuka kedok kemunafikan mereka, dan menunjukkan kepada mereka akibat-akibat yang pasti dari tindak-tanduk perbuatan mereka. Ini menimbulkan kemarahan mereka. Mereka merasa kesal atas celaan-celaan yang tak dapat mereka diamkan. Mereka membenci ukuran kebenaran yang tinggi yang senantiasa dikemukakan-Nya. Mereka melihat bahwa ajaran-Nya membuka kedok sifat mementingkan diri mereka dan mereka memutuskan untuk membunuh Dia. Mereka membenci teladan-Nya yang jujur dan saleh dan kerohanian yang ditinggikan terlihat dalam segala perkara yang dibuat-Nya. Seluruh kehidupan-Nya adalah suatu teguran kepada sifat mementingkan diri mereka dan ketika ujian yang terakhir datang, ujian yang berarti penurutan sampai kepada hidup yang kekal atau pelanggaran sampai kepada kematian yang kekal, mereka menolak Yang Kudus dari Israel. Ketika mereka ditanyai untuk memilih di antara Kristus dan Barabas, mereka berteriak, "lepaskanlah Barabas bagi kami!"(Lukas 23:18). Dan ketika Pilatus bertanya, "Apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus?" mereka berteriak kejam, "la harus disalibkan" (Matius 27: 22)—Seri Membina Keluarga, jld. 5, hlm. 225, 226.

Renungkan Lebih Dalam: Kapankah saya telah berusaha untuk membungkam suara Yesus karena Dia menghardik beberapa dosa yang saya hargai dalam hidup saya? Apakah saya berbeda dengan massa yang meneriakkan "Salibkan Dia!"?

Komentar