Ditawan dalam Budaya Asing


Ditawan dalam Budaya Asing

Tidak pernah mudah untuk diasingkan di sebuah budaya asing. Adalah sulit bagi kita saat ini untuk mengerti apa yang dihadapi oleh orang-orang Yahudi, pertama mereka berada di bawah Babel dan kedua di bawah Persia.

Sebagai contoh, tidak satu pun dari kita tinggal di sebuah negara Advent di mana prinsip-prinsip iman kita, dalam tingkat tertentu, merupakan hukum dalam negeri itu. Tetapi, sebelum mereka ditawan, orang-orang Yahudi telah tinggal di negara mereka sendiri ketika prinsip-prinsip iman adalah bagian penting juga dalam hukum-hukum negara mereka.

Pada satu level, pikirkan betapa mudahnya untuk setia kepada Allah. Lagi pula, betapa mudahnya untuk memelihara Sabat hari ketujuh jika pada kenyataannya, memelihara Sabat hari Ketujuh adalah bagian dari hukum-hukum yang ada di negara di mana kita tinggal.

Di satu sisi, sejarah suci menunjukkan kepada kita bahwa apa saja perintah-perintah dari satu negara, bahkan jika hal itu cocok dengan iman, kesetiaan haruslah berakar dari hati, dari dalam, atau kalau tidak, dosa, kemurtadan, dan kehancuran pasti akan mengikutinya.

“Dan Tuhan telah berfirman: ‘Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan”’ (Yes. 29: 13).

Sebaliknya, bagi mereka yang bertekad untuk setia, bahkan dalam lingkungan yang paling tidak menyenangkan, tidak bisa menghalangi mereka untuk tetap taat.

Bacalah Daniel 1: 1-12; Daniel 3: 1-12; dan Daniel 6: 1-9. Betapa pun uniknya setiap situasi, apakah yang dinyatakan oleh kisah-kisah ini sehubungan dengan tantangan yang dihadapi umat Allah ketika mereka hidup di sebuah budaya asing?

Tidak peduli siapa kita, atau di mana kita tinggal, sampai taraf tertentu, kita tenggelam dalam lingkungan yang, baik oleh hukum itu sendiri atau pun oleh budaya, atau keduanya, dan semua itu sangat bisa untuk menantang iman dan kesaksian kita. Kisah-kisah dalam kitab Daniel, walaupun selalu berakhir dengan “bahagia,” menyatakan bahwa bahkan dalam keadaan yang sulit, orang-orang bisa tetap setia kepada Allah. Bahkan jika tidak ada dari kisah-kisah ini yang berakhir bahagia, tidak ada keraguan bahwa orang-orang ini akan tetap melakukan hal yang benar.

Apa sajakah tantangan-tantangan terhadap iman Anda yang Anda hadapi di dalam kebudayaan Anda sendiri? Bagaimanakah Anda menanggapinya?

Komentar