Menunggu dan Misi

Menunggu dan Misi

Lukas 24 berakhir dengan kenaikan Yesus ke surga (Luk. 24: 50-53). Tetapi ini bukanlah akhir dari cerita itu. Penulis kitab ini, Lukas, melanjutkannya dengan menulis kitab Kisah Para Rasul. Sesaat sebelum Yesus terangkat ke surga, Dia memberikan murid-murid-Nya sebuah misi, janji, dan petunjuk-petunjuk langsung untuk menunggu di Yerusalem “kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24: 49; lihat juga Kis. 1: 4-8).

Yesus menginstruksikan para murid untuk menunggu di Yerusalem sampai Dia memenuhi janji-Nya untuk mengirimkan janji dari Bapa (Roh Kudus) yang akan melengkapi mereka dengan kuasa untuk bersaksi di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan di tempat-tempat yang lainnya.

Bacalah Kisah Para Rasul 1: 12-26. Apakah yang dilakukan para murid ini, yang sekarang berjumlah 120 orang, sementara mereka menunggu?

Yesus telah memberikan sebuah misi yang jelas kepada murid-murid-Nya: mereka harus menjadi saksi bagi-Nya kepada dunia. Jadi, sementara mereka menunggu, mereka mempersiapkan misi mereka dalam dua cara. Pertama, Lukas mengatakan bahwa mereka terus-menerus bersatu dalam doa dan permohonan. Tidak ada pertanyaan lagi dalam pikiran mereka tentang misi yang Yesus telah berikan kepada mereka, dan masing-masing mereka telah menerima misi itu. Hal ini mengilhami mereka untuk bersatu dalam doa. Lukas tidak memberitahukan apa yang sedang mereka doakan, tetapi besar kemungkinan mereka sedang berdoa untuk mendapatkan hikmat, kekuatan, dan keberanian supaya bisa melaksanakan misi itu bersama. Sungguh merupakan contoh yang baik bagi kita.

Hal kedua yang mereka lakukan sementara mereka menunggu adalah mempersiapkan logistik untuk misi mereka. Yudas telah menyerahkan Yesus untuk dieksekusi dan kemudian dia bunuh diri. Hal Ini mengakibatkan terjadi kekosongan di antara dua belas murid. Jadi, ketika mereka menunggu, para murid mencari tuntunan Allah dan memilih seorang pengganti. Sebagai akibatnya, para murid mengorganisasi diri mereka sendiri dan merencanakan bagaimana memulaikan misi mereka. Dalam membuat keputusan-keputusan ini, Petrus memainkan sebuah peran kepemimpinan. Tidak ada yang menantang tindakannya; mereka semua melihat hikmat Allah dalam peristiwa ini. Terdapat pengertian dan kepercayaan bahwa Allah sedang bertindak, bekerja, dan bergerak di antara mereka. Waktu mereka untuk menanti tidaklah dilakukan dengan bermalas-malasan tetapi diisi dengan tindakan terarah yang semuanya bertujuan untuk misi.

Sementara kita menunggu kecurahan Roh Kudus untuk menolong kita menyelesaikan misi besar dari Allah, kita harus bersatu untuk saling menguatkan satu sama lain (Ibr. 10: 24, 25) dan berdoa untuk kecurahan Roh Kudus dari Allah. Demikian juga, kita harus menghubungkan diri kita dan gereja kita dengan apa yang menjadi prioritas Allah, yaitu menyelamatkan yang hilang.

Bagaimanakah Anda bisa belajar untuk menantikan Tuhan dan tidak kehilangan iman saat ini? Sementara itu, sambil menunggu, bagaimanakah Anda menggunakan waktu Anda dengan baik, sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid Yesus dahulu?

Komentar