Panggilan Allah untuk Misi

Panggilan Allah untuk Misi

Sabat Petang

Untuk Pelajaran Pekan Ini Bacalah: Kej. 11:1-9; Kej. 12: 1-3; Dan. 9: 24-27; Mat. 1: 21; Kej. 12: 10-13: 1; Kis. 8: 1-4; Kis. 1: 8.

Ayat Hafalan: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1: 8).

Terkadang Allah dapat mengeluarkan kita dari zona nyaman kita dan

menjadikan kita sebagai saksinya. Kadang-kadang perubahan ini bisa

digunakan untuk menyelesaikan tujuan-tujuannya, contohnya adalah ketika terseraknya orang-orang di berbagai tempat pada peristiwa Menara Babel. “Terseraknya mereka ini adalah satu cara untuk memenuhi kembali bumi ini, dan dengan demikian maksud Tuhan telah dilaksanakan melalui satu cara yang telah digunakan manusia untuk menggagalkannya”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. l, hlm. 132. Sementara itu, Abraham keluar dari negerinya sendiri ke tempat yang lain (Kejadian 12) sebagai satu alat bagi Tuhan untuk bersaksi. Murid-murid Yesus beralih, dari yang tadinya bekerja hanya bagi bangsa mereka sendiri (Kisah Para Rasul 3) sekarang mereka bekerja bagi bangsa lain juga (Kis. 8: 1-4). Dalam Kisah Para Rasul 1: 8, Yesus meletakkan satu prinsip penginjilan, mereka harus memulai dari tempat di mana mereka berada, yaitu Yerusalem dan Yudea, dan kemudian pergi ke Samaria, dan pada akhirnya, sampai ke ujung-ujung bumi.

Tetapi, kalau pun kita tidak meninggalkan negeri kita, Allah tetap menginginkan kita untuk menjangkau orang-orang yang ada di sekeliling kita. Ketika gereja di Yerusalem merasa puas diri, anggota-anggotanya menjadi tersebar. Walaupun penganiayaan datang dan orang-orang ini menderita, hal yang tidak menyenangkan ini menjadi sarana untuk menyebarkan kabar baik ke seluruh dunia.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan pada Sabat, 21 Oktober.

Komentar