Misi Abraham

Misi Abraham

Bacalah Kej. 19: 1-29. Apakah hasil dari roh keramahtamahan, kasih, dan doa?

Ayat di atas memberikan sebuah indikasi yang menarik sehubungan dengan posisi dari Lot di Kota Sodom: “Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom” (Kej. 19:1). Hal ini berarti bahwa dia adalah seorang tokoh yang penting di kota itu, pastinya seorang pejabat publik, karena duduk di pintu gerbang adalah sebuah kesempatan istimewa yang hanya dimiliki oleh para pejabat publik, hakim, dan raja (2 Sam. 19: 8; Yer. 38: 7; Rut 4: 1).

Kejadian 19 hampir paralel dengan pasal 18 dan dengan cerita tentang malaikat-malaikat yang bersama dengan Abraham. Abraham dan Lot sama-sama duduk di bagian depan atau di pintu gerbang (Kej. 18: 1; Kej. 19: 1); Abraham dan Lot sama-sama mengundang orang asing untuk beristirahat di tempat tinggal mereka (Kej. 18: 3, 4; Kej. 19: 2); Abraham dan Lot masing-masing mempersiapkan makanan bagi tamu-tamu mereka (Kej. 18: 4-8; Kej. 19: 3). Apa pun juga kesalahannya, Lot sepertinya memiliki beberapa sifat yang baik.

“Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah” (Kej. 19: 24, 25)

Kita tidak tahu berapa banyak orang yang tinggal di dalam kota-kota Sodom dan Gomora pada waktu itu, tetapi di antara ribuan orang ini, hanya ada empat yang tertinggal di kota, dan hanya tiga yang diselamatkan. Hal yang sama dengan peristiwa Air Bah. Kita tidak tahu berapa banyak yang hidup pada waktu itu, tetapi kita tahu bahwa kebanyakan dari mereka tidak diselamatkan.

Jumlah yang kecil dari penduduk Sodom yang diselamatkan memberikan implikasi pada misi kita: tidak semua orang akan diselamatkan. Kita ingin semua orang menerima Yesus dan rencana keselamatan-Nya, tetapi setiap pribadi memiliki kebebasan memilih. Tugas kita adalah untuk mengundang sebanyak mungkin orang untuk membuat pilihan bagi Yesus. Sementara kita menjalankan misi kita, Allah menolong kita melalui Roh Kudus, tetapi Dia tidak akan menentang kehendak dari siapa pun. Pada akhirnya, kehendak bebas itu berarti bahwa tidak peduli apa yang kita lakukan, tidak peduli seberapa sering kita berdoa, keselamatan datang berdasarkan pilihan masing-masing.

Bagaimanakah kita belajar untuk tidak menjadi kecewa jika kita mendapati bahwa hasil-hasil yang kita dapatkan tidak seperti yang kita inginkan ketika kita melakukan pekerjaan misi?

Komentar