Allah yang Menjadi Satu dengan Kita

Allah yang Menjadi Satu dengan Kita

Perjanjian Lama menyatakan bagaimana Pencipta mulai melaksanakan rencana melalui satu umat yang seharusnya mewakili sifat dan maksud-Nya kepada dunia. Segala sesuatu yang Allah lakukan adalah sesuai dengan strategi misi-Nya. Melalui Nabi Yesaya, Allah berkata, “Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian ... yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” (Yes. 46: 9-10). Tetapi, dalam Perjanjian Baru, kerinduan Allah untuk bersama dengan manusia dinyatakan melalui sebuah dimensi yang baru. Melalui penjelmaan Kristus, apa yang tadinya hanya merupakan janji di Taman Eden (Kej. 3: 15), sekarang menjadi kenyataan.

Bacalah cerita tentang pengumuman kelahiran Yesus dalam Matius 1: 18-23. Apakah hal-hal yang penting tentang Allah yang disampaikan oleh cerita ini kepada kita?

“Allah beserta kita.” Imanuel. Allah sebelumnya telah berdiam di antara umat-Nya di dalam Bait Suci, sekarang Dia tinggal di antara mereka secara fisik dalam wujud pribadi Yesus Kristus dari Nazareth. Sungguh, dengan kelahiran Yesus, Allah menyatakan dalam cara-cara yang nyata kerinduan-Nya yang terus-menerus ingin beserta dengan kita dalam sifat dan misi: Anak Allah yang adalah sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Ilahi, dan Dia adalah pribadi yang menegaskan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14: 6).

Bacalah Yohanes 1:14-18. Apakah yang bisa Anda pelajari dari penjelmaan Kristus sehubungan dengan misi Allah kepada kita?

Allah bergerak maju dengan misi-Nya dan kemudian, melalui Yesus Kristus, hadir dalam daging di antara anak-anak-Nya. Dialah “Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1: 14), yang menggenapi nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama dan, sejalan dengan rencana Ilahi, menjadi satu dengan kita, Allah dalam daging. Allah dari misi itu terus bertindak untuk menyelesaikan tujuan-Nya.

Pikirkan arti dari kasih Allah kepada kita yang sangat besar sehingga Dia mau datang kepada kita dalam kemanusiaan kita. Bagaimanakah kita seharusnya menanggapi kasih ini, secara khusus dalam hubungannya dengan misi kepada sesama kita?

Komentar