Allah Tritunggal: Asal Mula dari Misi

Allah Tritunggal: Asal Mula dari Misi

Misi dari Allah di dalam Kitab Suci menempatkan Yesus yang terdepan dan terutama sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Kristus sendiri menyatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14: 6). Tetapi Yesus juga menolong kita untuk mengerti sentralisasi Allah tritunggal dalam misi-Nya.

Semua yang Kristus lakukan semata-mata hanya untuk atau dari Bapa-Nya di surga (lihat Yoh. 4: 34; Yoh. 5: 30; Yoh. 12: 45). Tetapi, kita harus selalu ingat bahwa misi Yesus tidaklah dimulai ketika Dia datang ke dunia ini. Dia telah menerima itu dari Bapa bahkan sebelum penciptaan dunia kita ini (bandingkan Ef. 1: 4, 1 Ptr. 1: 20).

Untuk itu, Allah telah merencanakan penjangkauan-Nya kepada manusia bahkan sebelum Dia meletakkan fondasi planet kita, dan Dia benar-benar ingin masuk dalam sejarah manusia supaya bisa melaksanakan tujuan-Nya.

Anak menciptakan dunia (Yoh. 1: 3) dan “setelah genap waktunya” (Gal. 4: 4), Allah menunjukkan kasih-Nya dengan mengirimkan Anak-Nya ke dunia (Yoh. 3: 16, 17). Anak pun datang, mati di kayu salib, dan mengalahkan dosa. Kemudian, Roh Kudus pun datang ke dunia, dikirim oleh Bapa, (Yoh. 14: 26; Yoh. 16: 7), untuk meyakinkan dunia (Yoh. 16: 8-11), dan saat ini melanjutkan misi dari Bapa dan Anak dengan cara memberikan kuasa dan mengutus umat Allah dalam pekerjaan misi (Yoh. 14: 26; Yoh. 16: 13, 14).

Bacalah Yohanes 20: 21, 22. Bagaimanakah pengertian bahwa misi itu berasal dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang membentuk misi kita?

Walaupun kata “trinitas” tidak ditemukan di dalam Kitab Suci, bukti bahwa misi berfokus pada tiga pribadi (trinitas) ini sangatlah banyak. Sebagai contoh: sesudah kebangkitan, Kristus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan menjanjikan kepada mereka: “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24: 49). Di sini kita menemukan fakta tentang misi keallahan itu dalam satu kalimat: janji Bapa, jaminan dari Anak terhadap penggenapan janji itu, dan janji itu sendiri, yaitu datangnya Roh Kudus (lihat Luk. 3: 16; Kis. 1: 4, 5, 8).

Kita telah mempelajari bahwa misi itu bukanlah milik kita. Misi itu milik dari Allah tritunggal. Dan dengan begitu, misi itu tidak akan gagal.

Bapa, Anak, dan Roh Kudus terlibat semuanya dalam pekerjaan penyelamatan jiwa-jiwa. Mengapa Anda seharusnya menyadari bahwa pemikiran ini sangatlah menghibur?

Komentar