10 September 2023

 



Pidato Pertempuran

Pelajari kesimpulan Paulus yang terngiang-ngiang pada suratnya, Efesus 6: 10-20. Apakah arti seruan pertempuran Paulus bagi kita dewasa ini, sebagai pejuang dalam pertentangan besar?

Paulus mengakhiri surat Efesus dengan panggilan untuk berperang, mendesak orang percaya untuk mengambil sikap mereka dalam perang gereja melawan kejahatan (Ef. 6:10-20). Dia memulai dengan nasihat menyeluruh untuk “menjadi kuat di dalam Tuhan” (Ef. 6: 10), yang dia ulangi sebagai panggilan untuk “mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah” (Ef. 6: 11). Dia mendukung panggilan ini dengan menentukan tujuan (untuk dapat melawan rencana Iblis, Ef. 6: 11), dan dengan menawarkan alasan: pertempuran itu melawan kekuatan roh jahat yang kuat (Ef. 6: 12). Secara terperinci, Paulus kemudian memunculkan kembali panggilan untuk mengangkat senjata. Orang percaya harus “mengangkat seluruh perlengkapan senjata Allah” untuk berdiri teguh dalam peperangan (Ef. 6: 13), mengenakan ikat pinggang, berbaju zirah, kasut kaki, perisai, ketopong, dan pedang (Ef. 6: 14-17). Paulus mengundang orang-orang percaya, yang sekarang bersenjata lengkap dan siap untuk memasuki medan perang, untuk melakukan apa yang tentara di medan perang kuno mungkin lakukan—yaitu, berdoa (Ef. 6: 18-20).

Dengan menggemakan nasihat pertempuran atau pidato menjelang pertempuran dalam Perjanjian Lama, Paulus berbicara tentang misi gereja dalam hal konflik militer dan senjata. Paulus memberi isyarat ini dalam perintahnya yang pertama dan menyeluruh: “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Ef. 6: 10).

Nasihat-nasihat pertempuran dalam Perjanjian Lama (lihat, misalnya, Ul. 20: 2—4; Hak. 7: 15-18; 2 Taw. 20: 13-20; 2 Taw. 32: 6-8; Neh. 4: 14, 19, 20) menggarisbawahi gagasan bahwa keberhasilan Israel dalam pertempuran tidak bergantung pada keunggulan senjatanya sendiri atau pasukan yang melebihi jumlah musuh-musuhnya. Sebaliknya, kemenangan dihasilkan dari bergantung pada kehadiran dan kuasa Allah. Kunci kesuksesan bukanlah kepercayaan pada diri mereka sendiri tetapi kepercayaan yang kuat pada kuasa Tuhan dan ketetapan-Nya untuk kesuksesan mereka. Paulus menggunakan tema-tema ini dengan berani untuk menasihati orang percaya agar menjadi: (1) aktif dalam mengejar misi gereja; (2) memperhatikan dimensi tak terlihat yang memengaruhi kehidupan dan kesaksian mereka; (3) menyadari ketentuan Ilahi untuk keberhasilan mereka; dan (4) selalu mengingatkan pentingnya persatuan dan kolaborasi di antara orang-orang percaya.

Apakah yang hendaknya diajarkan oleh peringatan Paulus bahwa kita berperang bukan melawan darah dan daging tetapi melawan musuh supranatural mengajari kita tentang di mana satu-satunya harapan kemenangan kita berada?

Komentar