DIA DUDUK DI ATAS BULATAN BUMI


 DIA DUDUK DI ATAS BULATAN BUMI


'Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!" (Yesaya 40: 22).

Ia yang memerintah di dalam surga adalah pribadi yang dapat melihat akhir dari awalnya-yang di hadapannya terpampang rahasia-rahasia masa silam dan yang akan datang, dan yang jauh di balik segala laknat, kegelapan dan kehancuran yang telah diakibatkan oleh dosa, dapat melihat wujud dari pada maksud-maksud-Nya yang penuh kasih dan berkat itu. Meskipun "awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya" Dan akan hal ini segenap penduduk alam semesta baik yang setia ataupun yang tidak setia, satu waktu akan mengerti. "Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia"—Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 34.

Allah adalah Bapa kita, yang mengasihi dan memelihara kita sebagai anak-anak-Nya; Dia juga adalah Raja Agung dari alam semesta. Kepentingan-kepentingan kerajaan-Nya, adalah juga kepentingan-kepentingan kita, dan kita harus bekerja untuk membangunnya—Khotbah di Atas Bukit, hlm. 123.

Menguduskan nama Tuhan memerlukan kata-kata yang diucapkan dengan rasa hormat yang dengannya kita menyatakan Yang Mahatinggi. "Nama-Nya kudus dan dahsyat." Dalam sikap apa pun sekali-kali kita tidak boleh menganggap enteng gelar atau nama panggilan Tuhan. Dalam doa kita memasuki kamar audiensi Yang Mahatinggi; dan kita harus datang ke hadapan-Nya dengan perasaan hormat. Malaikat-malaikat menutupi wajah mereka di hadapan-Nya. Kerubirn dan serafim yang bercahaya dan suci mendekati takhta-Nya dengan rasa hormat yang sungguh-sungguh. Berapa banyak lagi kita makhluk yang terbatas dan berdosa harus datang dengan sikap hormat di hadapan Tuhan, Pencipta kita!—Khotbah di Atas Bukit, hlm. 121.


Komentar