Berita Mission Sabat 3 / 18 Juli 2020 – “PERJALAN PANJANG KEMBALI KE RRUMAH”


BERITA MISSION“PERJALAN PANJANG KEMBALI KE RRUMAH”

Sabat  3 / 18 Juli  2020 – Liberia
Oleh: Alphanso Peter Juah , 48 Tahun  

Pada usia 19 tahun, Alphanso Peter Juah melarikan diri dari perang saudara di Liberia dengan menaiki kereta dan pergi ke Guinea. Dia tidak tahu bahwa perjalaan itu akan embawanya ke delapan Negara dan bahwa dia akan pulang ke rumah dengan seorang istri  yang berasal dari Indonesia 14 tahun kemudian. Masa-masa sulit ketika Alphanso pada tahun 1992 dan dia dengan cepat meninggalkan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di masa kecilnya. Dengan bantuan agen , ia menyelesaikan studinya di Guinea tetapi kemudian menemukan dirinya tunawisma. Dia menggunakan skema apa pun yang bisa dia pikirkan untuk mendapatkan uang. Dia menjual heroin. Dia melakukan pencucian uang. 

Setelah satu tahun, dia merindukan peluang baru, jadi dia secara illegal membeli paspor Guinea dan pindah ke Senegal. Selama empat tahun, ia menjual heroin, menipu orang-orang karena uang. Mencri lebih banyak peluang, ia melakukan peerjalanan ke Tunisia dan kemudian ke Yordania, India, Thailand dan Indonesia. Di setiap Negara ia menjual narkoba, menipu orang  dan menghasilkan cukup uang untuk hidup dan pindah tempat berikutnya.   Dia mendapati uang bisa membeli apa saja, termasuk visa untuk keperluan peerjalannya. 

Di Ibu Kota Indonesia, Jakarta, Alphanso mulai berpikir keras tentang kehidupan. Dia ingat menghadiri gereja pada hari Sabat. Dia merasa buruk karena dia tahu bahwa dia tidak mematuhi perintah-perintah Allah. Suatu hari, dia berbicara tentang Tuhan sambil bermain biliar dengan orang asing Spanyol. Orang asing itu mengundangnya pada hari Minggu berikutnya. Missionaris AS yang memimpin gereja hari Minggu mendengarkan kisah Alphanso dan menawarkan untuk membantu membayar sewa rumahnya. Sebagai gantinya, Alphanso bekerja di halaman gereja dan mengatur sound system. Alphanso terus berpikir tentang hari Sabat. Dia menemukan alamat gereja Advent dan mulai menghadiri kebaktian setiap Sabat ketika masih bekerja di gereja lain pada hari Minggu. Dengan hanya pendidikan sekolah menengah, ia ingin belajar di universitas, tetapi tidak ada yang bisa membantu. Gereja Minggu tidak membantu. Orang Advent juga tidak membantu, tetapi mereka menghubungkannya kembali dnegan orang tuanya di Liberia. Dia belum berbicara dengan mereka seja melarikan diri dari Liberia. 

Tiga tahun berlalu dan gereja Minggu berhenti mendukungnya, Alphanso kembali menjual narkoba, menipu orang. Tetapi sesuatu yang besar terjadi di dalam hidupnya pada waktu itu. Dia menikah. Saat bekerja di gereja  Minggu ia jatuh cinta dnegan Wastinah, kerabat pembantu rumah tangga missionaris. Setelah beberapa saat, Alphanso merasakan keingi-nan yang akrab untuk peluang baru dan pindah ke Tiongkok. Setelah empat bulan, ia memanggil isrinya. Ketika berada di Tiongkok, pikirannya kembali kepada Tuhan dan ia menemukan Alkitab berbahasa Inggris di toko buku. Suatu hari, matanya tertuju pada Pengkhotbah 1:2 yaitu, “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.”  “Hidupku dipenuhi kesombongan,” pikirnya. Aku harus pulang ke Afrika.” 

Dia dan Wastinah terbang ke Liberia pada tahun 2006. Kembali ke rumah, dia memiliki reuni yang penuh air mata dengan orangtuanya. Dia memberikan hatinya kepada Yesus dan pergi ke gereja setiap Sabat. Wastinah bergabung dnegannya dan setelah beberapa waktu, memberikan hatinya kepada Yesus. Saat ini Alphanso bekerja sebagai penebang kayu di  Buchanan dan Wastinah menjual beras, minyak dan bahan makanan lainnya dari sebuah kios pinggir jalan di depan rumah mereka. Meereka memiliki tiga orang anak berusia 12, 8 dan 5 tahun. Alphanso dengan mudah membagikan kisahnya tentang rahmat Tuhan dalam hidupnya.  

Komentar

  1. ayo menangkan uang setiap harinya di agen365*com
    WA : +85587781483

    BalasHapus

Posting Komentar