Berita Mission 8 Februari 2020-Dari Desa ke Istana

Dari Desa ke Istana

Kemarahan sang ayah meledak ketika Vincenzo Mazza yang saat itu berusia 16 tahun kembali ke desanya di salah satu pulau di Sisilia, Italia dan mengumumkan bahwa dia telah dibaptis menjadi umat Advent.

Sang ayah semakin marah ketika anak remajanya itu menyatakan rencananya untuk menjadi seorang pendeta.

"Jika kamu pergi, jangan pernah kembali," kata ayah, seorang veteran Perang Dunia II yang miskin, yang membesarkan anak-anaknya dengan sangat keras.

Tidak ada yang menyadari bahwa suatu hari nanti Vincenzo akan memimpin Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Italia dan mengajarkan Alkitab kepada pemimpin negara itu.

Perlakuan sang ayah tidak melemahkan semangat pemuda yang dibaptis ketika melakukan perjalanan ke luar negeri bersama saudara tertuanya yang juga adalah anggota Advent di kota yang lain. Vincenzo akhirnya pergi ke sekolah Advent Villa Aurora di Florence. Dalam perjalanannya, dia menyadari bahwa dia tidak dapat mendaftar tanpa uang dan tidak ada pekerjaan yang tersedia di sekolah itu.

Dia berjalan mengelilingi taman di sekolah itu dengan rasa kecewa. Dia tidak ingin kembali ke Sisilia karena ayahnya pasti akan memaksa dia untuk mengkhianati imannya jika ingin tinggal di rumah mereka. Dia pun berdoa dengan rasa putus asa.

Tiba-tiba, dia mendengar sebuah bisikan di telinganya. "Lihatlah ke dalam saku kemejamu," kata suara itu.

Vincenzo meraih sesuatu di dalam saku kemejanya dan dia menemukan secarik kertas yang bertuliskan alamat keluarga orang Jerman tempat dia tinggal saat melakukan perjalanan ke Florence. Keluarga itu mengundangnya untuk menemui mereka di Karlsruhe, Jerman.

Lalu, dia teringat bahwa gereja Advent memiliki sekolah di Jerman, di Kota Darmstadt. Ketika dia menghitung koin yang dia miliki, koinnya hanya cukup untuk membeli tiket kereta sekali jalan ke Karlsruhe, jaraknya kira-kira 60 mil (100 kilometer) Darmstadt Selatan.

Vincenzo menaiki kereta menuju Karlsruhe dan menginap satu malam di rumah keluarga itu dan dia memberitahukan mereka tentang keinginannya untuk bersekolah di seminari. Keluarga itu membelikan tiket kereta ke Darmstadt untuk dia.

Remaja itu pergi tanpa uang, tanpa pengetahuan tentang Jerman, dan tanpa petunjuk arah ke seminari.

Dia berjalan untuk beberapa jam mencari lokasi seminari. Dia akhirnya memasuki hutan, tetapi dia tetap berjalan dan akhirnya dia tersesat. Matahari mulai terbenam dan dia mulai kedinginan juga ketakutan. Tidak tahu apa yang harus  dia lakukan, dia pun menangis dan  berdoa meminta pertolongan dari  Tuhan.

 "Hei anak muda!" sebuah suara  terdengar dan membuatnya ter-
Tips Cerita

> Tonton anak Vincenzo, Andreas, di YouTube: bit.ly/An-dreas-Mazza
> Unduh foto-foto di Facebook (bit.ly/fb-mq) atau bank data ADAMS (bit.ly/Village-to-Palace)
> Unduh foto-foto proyek Sabat Ketiga Belas: bit.ly/eud-2020-projects.
Fakta Singkat
> Gunung Etna di Sisilia adalah gunung berapi aktif tertinggi di Eropa dan masih aktif.
Erupsi spektakuler sering terlihat dari puluhan mil (kilometer) jauhnya.
kejut. "Apakah yang sedang kamu cari?"

Vincenzo tidak mendengar kalau ada yang mendekat dan tiba-tiba dia terkejut melihat pria paruh baya bertubuh pendek dan rambutnya putih. Lebih mengejutkan lagi, pria itu berbicara dalam bahasa Jerman tetapi Vincenzo sama sekali tidak mengerti perkataan pria tua itu.

"Saya mencari sekolah Advent," jawab Vincenzo dalam bahasa Italia. "Saya akan tunjukkan arahnya," kata pria itu dengan tetap menggunakan bahasa Jerman.

Pria paruh baya itu memberikan petunjuk yang detail dan Vincenzo pun mengikuti arahan pria itu. Setelah beberapa langkah, dia membalikkan badannya untuk berterima kasih kepada pria paruh baya itu, tetapi pria itu sudah tidak ada.

Akhirnya, Vincenzo tiba di seminari dan menjelaskan situasinya kepada para guru. Mereka mendaftarkan dia dan menyediakan pekerjaan untuknya. Akhirnya, dia mengabdi sebagai pendeta di Jerman dan Italia seumur hidupnya. Dia melayani sebagai pemimpin gereja Advent di Italia dari tahun 1995 hingga dia pensiun pada tahun 2000.

Dia tetap rutin berhubungan dengan ayahnya. Setelah banyak waktu telah berlalu, ayah Vincenzo akhirnya memintanya untuk memaafkan dia.

"Saya adalah ayah yang otoriter," kata sang ayah ketika Vincenzo, istri, dan kedua putranya berkunjung ke rumahnya di Sisilia pada musim panas. "Saya telah menyadari dan menyesali untuk apa yang telah saya perbuat bagi anak-anak saya."

Sebagai pemimpin gereja Advent di Italia, Vincenzo suatu ketika pernah menulis surat terima kasih kepada Presiden Italia, Oscar Luigi Scalfaro atas komentar dukungan yang presiden buat untuk umat Protestan.

Beberapa hari setelah surat itu
dikirim pada tahun 1997, Presiden Scalfaro mengundang Vincenzo untuk berkunjung ke istana kepresidenan.

Setelah kunjungan pertama, mereka menjadi teman baik. Presiden Scalfaro sering mengundangnya beberapa kali dan selalu berkata "Pendeta Mazza, tolong baca Alkitab bersama saya. Tolong doakan saya."

Persahabatan mereka menjadi sorotan orang banyak ketika presiden menerima undangan Vincenzo untuk menghadiri peresmian rumah pensiunan Advent di Forle, pada tahun 1998. Kehadiran presiden mengubah acara sederhana menjadi berita nasional. Masyarakat Italia yang tidak pernah mendengar tentang gereja Advent akhirnya dikenalkan kepada gereja dan Sabat hari ketujuh.

Sekarang, Vincenzo berusia 70 tahun dan menderita penyakit Parkinson. Namun, tetap memiliki semangat pelayanan dan dia sering mengunggah renungan-renungan singkat di halaman Facebooknya.

Sebagian dari persembahan Sabat Ketiga Belas triwulan ini akan membantu renovasi gedung utama Academy Marienhohe di Darmstadt, Jerman. Terima kasih atas kemurahan hati Anda dalam memberikan persembahan ini.
Oleh: Andrew McChesney

Komentar