Berita Mission 15 Februari 2020-Meragukan Hari Sabat

Meragukan Hari Sabat

Vincenzo Gallina adalah seorang ahli IT di Jerman. Dia tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi.

Krisis global terus terjadi secara beruntun, 9/11, gejolak keuangan di Eropa, Crimea, dan krisis imigran.

Ada yang salah. Vincenzo mulai mengira-ngira apakah dunia ini telah berakhir. Dia berusaha untuk memahami keputusan politisi yang tampaknya tidak masuk akal. Dia mencari jawabannya di YouTube bahkan dia kembali ke gereja masa kecilnya.

Vincenzo tidak hanya menghadiri pelayanan ibadah hari Minggu. Dia juga menghadiri ibadah hari Sabtu dan Rabu. Pemimpin gereja sangat terkesan dengan ketertarikannya dalam agama sehingga mereka berusaha membujuknya untuk menjadi seorang pendeta. Vincenzo menolak. Dia hanya menginginkan jawaban atas kejadian-kejadian global dan menjalani kehidupan yang suci.

Selama masa pencariannya, dia menganut tiga prinsip dalam hati, yaitu mengikuti kebenaran kemanapun arahnya, berlaku jujur kepada orang lain dan khususnya diri sendiri, dan melakukan apa yang sejalan dengan perkataan.

Namun, dia menjadi frustrasi ketika membaca Alkitab. Dia tidak memahami apa yang dibaca.

Suatu malam, dia berdoa dengan rasa putus asa. Dia meminta Allah untuk mengirimkan seseorang untuk menjelaskan isi Alkitab kepadanya. "Tuhan ampuni saya karena saya terlalu bodoh untuk memahami firman-Mu." Begitu doanya.

Tips Cerita
> Tonton Vincenzo di YouTube: bit.ly/Vincenzo-Gallina
> Unduh foto-foto di Facebook (bit.ly/fb-mq) atau bank data ADAMS (bit.ly/Challenging-the-Sabbath).
> Unduh foto-foto proyek Sabat Ketiga Belas: bit.ly/eud-2020-projects.

Pos Misi
>Penyebaran para pemelihara Sabat dan grup-grup kecil yang antipati Kristus segera muncul kembali di Jerman pada awal 1844. Ada orang Kristen di Bavaria yang menerima Sabat alkitabiah. Mereka terinspirasi oleh tulisan Tennharrdt, mahasiswa Alkitab Nurnberg pada abad kedelapan belas. Pada tahun 1902, dua orang dari Wurttemberg yang telah memelihara Sabat selama lebih dari 50 tahun akhirnya dibaptis di dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

Hari berikutnya, dia membuka YouTube. Dia tersentuh dengan sebuah renungan yang disampaikan oleh seorang penginjil Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Ketika dia mendengarkan renungan itu, ada yang cocok dengan benaknya. Dia menyukai renungan itu karena penginjil itu menggunakan Alkitab
untuk mendasari semua perkataannya.

Dalam sehari, dia dapat menyelesaikan lima renungan sekaligus lewat Youtube. Otaknya seperti spons kering yang terus menyerap pengetahuan baru.

Dia teryakini bahwa hari ketujuh merupakan Sabat yang Alkitabiah. Dia mulai berkunjung ke gereja Advent di tempat tinggalnya di Cologne setiap hari Sabtu. Dia ingin menyembah Allah sang Pencipta. Dia ingin membuktikan bahwa Iblis salah ketika mengatakan bahwa tidak mungkin memelihara hukum Allah. Dia ingin jujur dan menuruti kebenaran kemana pun kebenaran itu menuntunnya.

Namun, Dia dapati sangat sulit menjalani kehidupan yang suci karena dia masih tinggal dengan orang tua. Orang tuanya tidak pernah berdoa sebelum makan dan dia mendengar mereka menyalakan televisi pada hari Sabat. Keraguan mulai menjalar dalam pikirannya tentang pentingnya memelihara hari Sabat. Dia merenungkan perkataan Yesus dalam Markus 2:28, "jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat "Dia pun ingat perkataan Rasul Paulus: "Kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia"dalam Roma 6:14. Dia pun berhenti memelihara hari Sabat.

Pada hari Jumat petang setelah matahari terbenam,

Vincenzo sedang bekerja dengan komputernya saat dia mendengar sebuah suara berkata: "Kamu tahu, kamu tidak mematuhi salah satu hukumKu."

Vincenzo mengingat prinsipnya tentang jujur kepada orang lain dan diri sendiri.

"Ya, saya tidak memelihara Sabat," kata Vincenzo. "Pentingkah memelihara Sabat?"

Dia kembali bekerja.

"Kamu tahu, kamu tidak sedang memelihara Sabat," kata suara itu kembali."Yang sedang kamu kerjakan itu salah."

"Tetapi apakah penting memelihara Sabat?"Vincenzo berkata sembari mengambil Alkitabnya yang berwarna hijau tua dari atas meja. "Bukankah Yesus berkata manusia diciptakan untuk hari Sabat? bukankah kita tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat?"

Namun, suara itu tidak berhenti.

Akhirnya, Vincenzo berdoa untuk minta tuntunan. Dia bertelut dan dengan Alkitab di tangannya, dia meminta Tuhan untuk memberikan jawaban yang jelas kepadanya.

"Engkau ingin aku memelihara Sabat?" dia berdoa. "Apakah hari ini begitu penting bagi-Mu? Bantulah saya untuk membuat keputusan."

Menurut Vincenzo, dia ingin memberikan kesempatan kepada Allah untuk menjawab semua pertanyaannya. Sambil melihat
Alkitab yang ada di tangannya, dia memutuskan untuk membuka Alkitab secara acak dan menerima apa pun jawaban Allah. Vincenzo menutup mata dan membuka Alkitab. Saat dia membuka Alkitab, dia membaca Yesaya 58:13,14 yang mengatakan: "Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudusKu; apabila engkau menyebutkan hari Sabat hari kenikmatan dan hari Kudus Tuhan hari yang mulia; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong maka engkau akan bersenang-senang karena Tuhan."

Vincenzo pun menangis. Dia tidak dapat bekerja setelah menerima jawaban seperti itu. Dia mematikan komputer dan membuka Alkitab.

Sejak saat itu, Vincenzo tidak lagi ragu tentang pemeliharaan hari Sabat. Dia kembali ke gereja pada Sabat pagi dan di usianya yang ke-29 tahun ini, dia tetap setia memelihara Sabat.

Sebagian dari persembahan Sabat Ketiga Belas triwulan ini akan membantu renovasi gedung utama Akademi Marienhohe di Darmstadt, Jerman. Terima kasih atas kemurahan hati Anda memberikan persembahan ini.
Oleh: Andrew McChesney

Komentar