Berita Mission 18 Januari 2020-Orang Asing dengan Tatapan Hangat

Orang Asing dengan Tatapan Hangat


Seorang pensiunan profesor berusia 67 tahun mendatangi akademi polisi nasional Bulgaria sambil membawa tiga salinan buku Ellen. G.White yang berjudul " The Great Controversy."

Misinya ialah mendatangi kampus yang dijaga ketat dan menawarkan sebuah buku untuk komandan akademi polisi.

Minggu itu merupakan saat tersibuk bagi Jivko Grushev untuk memperkenalkan buku The Great Controversy kepada para pemimpin universitas di Ibu Kota Bulgaria, Sofia. Setelah menjual 100 buku, tersisa tiga buku di dalam tasnya. Dia pun berjalan menuju pos penjagaan polisi di gerbang akademi kepolisian. Ketika dia baru tiba di pos tersebut dia melihat sebuah limosin hitam keluar gerbang. Sambil menyapa petugas polisi, Jivko meminta izin untuk bertemu dengan komandan mereka.

"Komandan kami sedang keluar," kata petugas itu.

Sang komandan baru saja keluar dengan limosin hitam.

"Kalau begitu, izinkan saya bertemu dengan sekretarisnya," kata Jivko.

"Apakah yang ingin Anda diskusikan dengan sekretaris?" tanya petugas tadi.

Pertanyaan ini tidak diduga, tetapi Jivko segera menjawab: "Saya ingin mendiskusikan beberapa hal terkait dengan sumbangan."

Kemudian petugas itu menuliskan data diri Jivko dan mengizinkannya  memasuki kampus. Saat Jivko berjalan memasuki gedung administrasi yang megah itu, Jivko sempat bertanya dalam hatinya, apakah petugas itu telah menelepon terlebih dahulu untuk memberitahukan kedatangannya.


Tips Cerita
> Tonton Jivko di YouTube: bit.ly/ Jivko-Grushev.
> Unduh foto pada Facebook (bit. Iy/fb-mq) atau bank data ADAMS (bit.ly/stranger-with-eyes)
> Unduh foto proyek sabat Ketiga Belas: bit.ly/eud-2020-projects.
fakta Singkat
> Bulgaria adalah negara tertua di Eropa yang tidak pernah mengubah namanya sejak pertama kali didirikan pada tahun 681 Masehi.
> Penemu jam tangan digital pertama ialah orang Bulgaria yang bernama Peter Petroff.
> Orang Bulgaria menggelengkan kepala untukarti"ya"dan mengangguk untuk "tidak".


Di pintu masuk lobi, Jivko melihat ada sebuah pintu kecil dan sebuah bilik kaca untuk pos penjagaan. Pintu itu terbuka dan bilik kaca itu kosong. Namun, beberapa petugas polisi sedang berbicara dengan semangat di dekat tangga marmer berwarna abu-abu di lobi. Jivko dengan berani berjalan melewati pintu lobi dan menanyakan para polisi tersebut jalan menuju ruang sekretaris.

"Jalan ini" salah seorang petugas menjawab dengan kasar sambil menunjuk ke arah pintu keluar.

Jivko berjalan ke arah pintu yang ditunjukkan polisi itu.
Sambil berjalan dia pun berdoa: "Tuhan saya datang membawa Terang-Mu, bantulah saya."

Para polisi itu terus melanjutkan pembicaraan mereka.

Tiba-tiba dia melihat seorang pria muda berusia kira-kira 30-an tahun menuruni tangga marmer abu-abu itu. Matanya tertuju ke Jivko dan sepertinya ingin mengatakan: "Tunggu sebentar". Dia berjalan melewati para petugas polisi itu dan berbicara dengan mereka.

Jivko tidak memalingkan matanya dari pria itu. Dia belum pernah bertemu petugas polisi yang begitu mengesankan dan terlihat berwibawa. Dia terlihat ceking dan tampan. "Apakah yang sedang pria itu lakukan?" pikir Jivko.

Pria itu mengenakan pakaian berwarna hitam seperti petugas lainnya, tetapi pakaiannya memiliki kualitas yang jauh lebih tinggi. Tidak ada tanda pangkat di bahunya. Ketika pria itu selesai berbicara dengan para petugas tersebut, dia memandang Jivko dengan tatapan yang hangat seakan ingin berkata: "Sudah selesai." Kemudian dia berjalan keluar pintu, melewati Jivko dan keluar dari gedung.

Seketika saja polisi yang kasar itu bergegas menuju pos penjagaan dan seorang polisi wanita bergabung dengan dia. Lalu, secara bersamaan mereka berkata: "Apakah Anda ingin bertemu dengan sekretaris?"

Polisi wanita itu mencatat data diri Jivko dan polisi yang kasar tadi berkata: “Saya akan mengantarkan Anda ke sekretaris."Dia berlari menaiki tangga seperti sedang dikejar. Dia bahkan melompati dua anak tangga sekaligus. Sedangkan Jivko tertatih-tatih menaiki tangga itu. Di puncak tangga, polisi itu membukakan pintu untuk Jivko dan menunduk saat dia masuk. Polisi itu kemudian menutup pintu dari luar. Jivko memperkenalkan dirinya kepada sekretaris dan menunjukkan tiga buku tersebut.

“Ini hadiah untuk komandan dan deputi-deputinya," katanya. Setelah itu Jivko meninggalkan akademi. Dia bersyukur kepada Allah karena telah menolongnya menyelesaikan misi yang tampaknya tidak mungkin. Dia teringat polisi tampan dengan tatapan hangat. Pria itu hanya muncul untuk menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Buku-buku itu tidak akan pernah sampai ke tangan sekretaris tanpa bantuan pria itu.

Jivko yakin bahwa pria itu adalah malaikat yang diutus Allah sehingga dia dapat membagikan pesan keselamatan. Dia mengingat bagaimana Ibrani 1:14 menggambarkan sosok para malaikat: “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?"

Pertemuan dengan orang asing yang memiliki tatapan hangat itu telah mengubah kehidupan kerohanian Jivko dan dia selalu memikirkan hari itu.

“Allah sangat dahsyat saat Dia berkehendak untuk menyelamatkan umat-Nya," katanya. “Sahabat Surgawiku sangat luar biasa Jivko adalah ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sofia West yang akan menerima sebagian persembahan Sabat Ketiga Belas di triwulan ini untuk pembangunan gedung gereja di Ibu Kota Bulgaria. Terima kasih atas kemurahan hati Anda memberikan persembahan.

Oleh: Andrew McChesney.

Komentar