BERITA MISSION “KELUAR DARI KEGELAPAN" Sabat 3/19 Januari 2019

BERITA MISSION “KELUAR DARI KEGELAPAN"

Sabat 3/19 Januari 2019-Mozambik Oleh: Atija Jamal Caminete, 57 Tahun

Untuk pertama kali Atija mendengar tentang Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dari seorang perempuan tua berusia 80 tahun yang saat itu berkunjung kepada neneknya di sebuah desa yang bernama Nampula tidak jauh dari rumah Atija, mayoritas penduduk Mozambik yaitu 80 persen beragama Muslim. Seorang ketua gereja menghentikan Atija yang sedang berjalan bersama seorang anggota gereja Advent dan mengundang mereka untuk makan bersama. Setelah makan, sang ketua jemaat itu meminta agar Atija tetap tinggal untuk mendengarkan sebuah khotbah. Atija masih sangat mengingat akan khotbah tersebut Pengkhotbah saat itu telah berkhotbah tentang Injil Matius 24 dan telah menggambarkan bagaimana Yesus akan membangkitkan orang-orang mati di dalam Tuhan ketika Ia akan datang kedua kali. Hati Atija yang masih muda saat itu tersentuh dengan khotbah itu.

Sebulan sebelumnya suatu peristiwa telah terjadi, Atija kehilangan adik perempuannya yang baru berusia empat tahun karena penyakit anemia. "Sementara mendengar khotbah, saya percaya bahwa saya akan dapat menjamah adik saya kembali," kata Atija. Tujuh tahun berlalu, pada usia 15 tahun, Atija menikah dengan seorang yang dibesarkan dari keluarga pemelihara hari Minggu tetapi kemudian bergereja di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Nampula. Pada suatu hari Sabat, Atija menerima undangan suaminya untuk pergi ke gereja.

Saat itu acara Sekolah Sabat akan dimulaikan dengan sebuah lagu penyembahan yang berjudul "When the Roll Is Called Up Yonder," Atija menyimak dengan baik lirik lagu yang sedang dinyanyikan, kebetulan di samping Atija,berdiri seorang gadis kecil berusia 6 tahun menyanyikan lagu itu sangat jelas dengan suara merdu yang dimilikinya. "Saya sungguh terjamah ketika saya mendengarkan suara anak gadis tersebut, kemudian saya merasakan sesuatu terjadi di dalam hatiku," kata Atija.





Sejak hari itu,saya berketetapan untuk menjadi anggota gereja Advent Di bagian utara Mozambik,ada sebuah tradisi yaitu perlu ada konsultasi terlebih dahulu dengan orang yang dituakan dalam keluarga sebelum seseorang itu mengambil sebuah keputusan besar, karena itu Atija beserta suaminya pergi kepada bibi Atija yang bernama Karmen. Bibi ini yang telah membesarkan Atija, dan ia adalah seorang dokter. Bibi Karmen mendengarkan apa yang dimohonkan oleh Atija yaitu untuk menjadi anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh kemudian berkata: "Pergilah, sampaikanlah hal ini kepada ibumu."


Ibu Atija adalah seorang janda, berkata kepada Atija, "Saya bukanlah orang yang membesarkan kamu. Pergilah kepada pamanmu." Pada saat Atija pergi menyampaikan hal tersebut kepada pamannya yang bernama Kandido, pamannya itu tidak mengizinkannya. Pamannya bersumpah untuk tidak akan lagi mengunjungi Atija jika ia dibaptis. Kata-kata itu sangat menggetarkan Atija, tetapi Atija sudah bertekad untuk dibaptiskan pada hari itu juga bersama dengan suaminya.Saat acara baptisan, tidak seorang pun keluarga Atija yang hadir. Beberapa waktu kemudian,Atija pun melahirkan seorang anak laki-laki, yang diberi nama Dionisio,dan saat itu sang bayi mengalami sakit yang serius. Atija menolak untuk membawa anaknya itu kepada bibinya atau dokter lainnya untuk mendapatkan penyembuhan.

Pada suatu malam, tiba-tiba paman Kandido datang ke rumah Atija dengan geramnya. "Saya sedang menunggu kematian anak ini,"kata sang paman. "Pada saat anak ini meninggal, saya akan pergi.”Dua hari berlalu, bayi itu tidak mau makan menyebabkan ia sangat lemah. Sementara Atija bersama sang suami terus berdoa. Pada hari ketiga, bayi itu mulai dapat dirawat di sebuah rumah sakit dan terlihat adanya pemulihan. Kembali lagi sang paman datang berkunjung ke rumah Atija"Kami melihat bahwa setan telah dikalahkan," kata Atija. "Saya tahu bahwa anak saya mengalami sakit berat dan kelihatannya akan meninggal. Tetapi oleh kasih karunia Tuhan, ia sembuh dan hidup." Atas kesembuhan ajaib itu, saudara perempuan Atija bergabung ke dalam gereja Advent.

Setahun kemudian, saudara laki-laki Atija dan saudara yang lainnya dibaptiskan. Bahkan ibu dari Atija dibaptiskan juga, dan beberapa waktu kemudian, bibi Karmen mengikuti."Pada hari baptisan, pendeta membenamkan ke dalam air baptisan bibi Karmen sebanyak tiga kali,"kata Atija. Pada saat sang bibi dibenamkan ke dalam air baptisan untuk pertama kalinya terjadilah teriakan dengan kata-kata yang tak seorang pun dapat mengerti. Pendeta memanggil seorang lagi untuk membantunya dan berkata: "Mari kita baptiskan ia sekali lagi."Pada saat ia keluar dari dalam air untuk kedua kalinya, ia terus saja berteriak dengan kata-kata yang sangat tidak beraturan. Akhirnya rohsetan meninggalkan dia pada saat ia dibaptiskan untuk yang ketiga kalinya, kata Atija.

Sekarang ini, bibi Karmen adalah seorang diakones di gereja. Paman Kandido, yang pernah bersumpah untuk tidak akan pernah lagi mengunjungi Atija jika ia dibaptiskan, datang ke rumah Atija setelah istrinya dibaptiskan. Saat itu ia juga mengatakan bahwa ia rindu untuk dibaptiskan. Setahun setelah paman Kandido dibaptis, ia meninggal dunia."Seluruh anggota keluarga Saya telah menyerahkan diri mereka kepada Kristus dan sekarang semuanya menjadi anggota gereja yang setia” sahut Atija. "Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan oleh karena keluarga yang sama yang menolak dan mengatakan bahwa saya salah, sekarang semuanya adalah anggota gereja Advent."

Saat ini, Atija telah berusia 57 tahun dan merupakan istri dari pendeta aktif. Suaminya, Lazaro menyelesaikan kuliah kependetaannya dan melayani sebagai pendeta di Nampula. Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas triwulan ini akan menolong pembangunan sebuah gedung panti asuhan bagi anak-anak yatim piatu karena orang tua mereka meninggal akibat virus H1V/AIDS di Nampula.

Komentar