Berita Mission 30 Desember 2017-Program Sabat Ketiga Belas#Halaman2


Lalu terjadilah hal-hal aneh kepada ayah saya, Ia menjadi takut untuk tinggal di rumah sendirian, Ia menjadi gelisah dan berteriak-teriak hampir sepanjang waktu. Tekanan darahnya naik, dan ia pergi ke dokter yang memberinya obat. Tetapi hal itu tidak membantu. Dokter pun tidak tahu harus melakukan apa.

Nenek saya menasihati ayah agar pergi ke biara terdekat, Ia berkata bahwa imam di sana akan tahu apa yang salah tanpa bertanya kepada ayah saya. Maka pergilah ayah ke biara itu beberapa kali, tetapi tetap saja ia tidak terbantu.

Ayah mulai mencari jawaban di tempat lain, Ia bertanya kepada orang lain tentang tujuan hidup ini. Salah seorang yang ditanya olehnya adalah seorang penatua di gereja Advent. Setelah mereka berbincang, ayah menerima undangan untuk menghadiri program liburan di gereja. Sepulangnya ke rumah, ayah memberitahu ibu.

Dmitry: Saya pergi ke program gereja dan saya merasa sangat terkesan Ketika pulang ke rumah, saya memberitahu istri saya: "Mari pergi ke gereja."

Anjila: Ibu merasa terkejut, tapi sangat senang mendengar hal itu. Saya pun merasa senang. Bahkan saya merasa seperti sedang bermimpi. Sabat berikutnya kami mulai datang ke gereja, dan sejak itu kami selalu datang setiap hari Sabat

Dmitry: Tapi apa yang Anda tidak tahu, Anjila, adalah bahwa ayah berdoa sebelum memutuskan untuk pergi ke gereja.

Ayah tidak suka menjadi orang pemarah dan penakut. Dan rasanya hidup ayah seolah sudah berakhir. Tak ada lagi gunanya hidup. Ayah merasa ada sesuatu yang menekan ayah. Sekarang ayah tahu bahwa itu adalah pekerjaan Setan, Ia mau membunuh ayah.

Pada suatu hari ayah bertelut dan berdoa. Ayah tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat menolong ayah. Ayah berdoa:"Tolonglah saya, orang berdosa ini. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi tolonglah saya dengan tangan-Mu yang kuat." Ketika selesai berdoa, ayah merasa seperti sebuah beban terangkat dari bahu ayah. Ayah merasakan ada sebuah suara berkata: "Engkau harus melangkah maju, dan segalanya akan menjadi baik. Saya akan menolongmu."






Anjila: Kami pergi ke gereja, sebagai satu keluarga. Pendeta mengundang kami untuk mengikuti kelas baptisan. Kami berempat semuanya—ayah, ibu, adik, dan saya—dibaptis akhir tahun itu.

Kakek dan nenek tidak senang menanggapi keputusan kami. Mereka mengira bahwa saya dan adik saya dipaksa untuk pergi ke gereja. Nenek berkata kepada orang tua

Ke Halaman 1

Ke Halaman 2

Ke Halaman 3


Komentar