Berita Mission 20 Agustus 2016-BERKHOTBAH KEPADA PEMBUNUH (BAGIAN 2)


Kilas balik cerita: Phodidas telah ditangkap oleh orang-orang Hutu, yang memaksa dia untuk menggali kuburnya sendiri. Sementara ia menggali, Salah seorang pembunuh tertarik dengan Alkitab milik Phodidas dan mulai mengajukkan pertanyaan. Setelah kuburan digali, kelompok tersebut memutuskan untuk menyerahkan kuburan tersebut kepada orang lain. Sebelum memaksa Phodidas untuk menggali kuburan kedua, mereka memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara kepada mereka.

Pertama, saya berterima kasih kepada mereka. “Terima kasih atas doa yang saudara layangkan kepada orang yang telah saudara bunuh. Namun, Anda perlu memahami apa yang dikatakan

Alkitab—satu-satunya kesempatan Anda untuk diselamatkan adalah selama Anda hidup—bukari setelah Anda mati.'Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati,' saya kutip dari Pkh. 9:5, 'tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa.'Tetapi saya tidak akan memohon Anda untuk membiarkan saya pergi, saya melanjutkan, karena saya tahu bahwa bahkan jika Anda membunuh saya, waktunya akan datang di mana saya akan dibangkitkan."

“Di antara orang yang Anda bunuh adalah suku yang lain-me-reka bukan Hutu atau Tutsi. Mereka adalah anak-anak Allah. Anda berpikir bahwa Anda sedang berperang melawan suku, tetapi Anda keliru. Ini adalah perang antara Kristus dan Setan. Anda berpikir bahwa orang yang Anda bunuh adalah Tutsi, tetapi sesungguhnya mereka adalah milik dari suku atau keluarga yang sama sekali berbeda karena mereka telah memberikan hati mereka kepada Yesus dan mereka telah menjadi anak-anak-Nya."

Kemudian saya' baca 1 Petrus 2:9-10 kepada mereka: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan." Sementara saya berkhotbah, saya bisa melihat beberapa dari mereka menangis dan saya tahu bahwa Roh Kudus sementara bekerja di hati mereka. Setelah berkhotbah selama 15 sampai 20 menit saya mengatakan kepada kelompok itu: "Sekarang saya akan berdoa terakhir kalinya, dan setelah itu saya akan menggali kuburan lain."

Begitu saya selesai berdoa, seseorang berteriak: "Kalau ada yang membunuh orang ini, darahnya tertanggung atas mereka!"

"Tidak, kita tidak bisa membunuhnya!" Kata yang lain."Biarkan dia pergi! Kita tidak bisa membunuhnya."

Kemudian pemimpin kelompok itu berkata: "Saya adalah orang yang menyarankan supaya membunuh orang ini dengan cara yang sangat jahat. Tetapi sekarang, kita tidak akan membunuhnya."

Saya tahu itu terjadi hanya oleh kasih karunia Allah sehingga hidup saya bisa terselamatkan. Siapakah saya? Saya tidak memiliki kekuatan apa pun. Allah sungguh baik.

Fakta Terkini- Republik Rwanda memiliki luas | 10.169 mil persegi (26.338 Km.)
- Kigali adalah ibukota dan kota terbesar, dengan populasi kurang lebih 1 juta.
- Mata uang negara itu adalah franc Rwanda.
Sebuah Janji

Peristiwa Genosida atau pembantaian besar-besaran terjadi kurang lebih 100 hari sejak dari 7 April hingga pertengahan Juli 1994, sekitar 1 juta orang tewas, termasuk seluruh keluarga saya. Tetapi meskipun saya berhadapan dengan maut berkali-kali, Tuhan selalu bertindak untuk menyelamatkan hidup saya.

Selama genosida saya membuat janji kepada Allah bahwa jika saya bertahan, saya akan kembali ke kampung halaman saya dan berkhotbah kepada orang yang telah membunuh keluarga saya. Genosida berikutnya, saya ditugaskan untuk melayani di salah satu gereja terbesar di Kigali. Saya sangat sibuk, mengorganisasikan 42 kegiatan penginjilan di seluruh kota. Namun, saya tahu adalah penting untuk menjaga janji saya kepada Allah dan kembali ke kampung halaman saya, meskipun terasa berat. Tuhan berkata: "Pergilah!" Jadi saya kembali ke desa saya. Saya pergi dan berkhotbah dan ada 120 orang dibaptis.

Hidup Tanpa Kepahitan

Beberapa mungkin bertanya, "Setelah apa yang Anda alami, bagaimana Anda bisa hidup tanpa kepahitan?" Allah sungguh baik.

Ada begitu banyak orang yang hidup depresi tanpa keluarga—tidak ada keponakan, sepupu, atau satu orang pun anggota keluarga. Tetapi itu sangat menarik atas apa yang Tuhan telah lakukan bagi mereka yang mengasihi Dia. Saya menjadi sangat tertarik untuk mengetahui bagaimana menjalin hubungan yang sangat akrab dengan Tuhan. Adalah baik untuk membaca Firman Tuhan karena itu akan membantu Anda ketika saat-saat buruk datang. Anda tahu bagaimana berdoa dan Anda tahu bahwa Dia mendengarnya. Saya melupakan keadaan diri saya dan saya tidak ingat masalah saya lagi. Saya belajar bahwa Allah melihat kepada Anda dan Anda dapat membantu menjadi solusi bagi orang lain, dari pada menjadi batu sandungan.

Melampaui Genosida

Pada tahun 2000, Phodidas pergi ke Filipina untuk belajar di Adventist International Institute of Advanced Studies (AIIAS), di mana ia meraih gelar Ph.D, pada tahun 2006. Disertasinya menguraikan tentang kemungkinan penyebab Kristen terlibat dalam genosida.

Hari ini, Dr. Phodidas Ndamyumugabe adalah seorang Profesor di Universitas Advent Afrika Tengah (UAAT) di Kigali di mana ia mengajar Ilmu Filsafat dan Agama, Doktrin Alkitab, serta Yunani, Penafsiran Perjanjian Baru, dan membuat kursus teologi.

Sebagian persembahan Sabat Ketigabelas dari triwulan ini akan dialokasihkan ke UAAT di mana sekolah baru kedokteran akan dibangun. Persembahan akan membantu untuk membangun asrama dan kantin untuk mahasiswa di sana.

"Pelayanan kesehatan sangat penting,"kata Dr. Phodidas."Sebagai mahasiswa di sebuah universitas Advent mereka akan belajar bagaimana bisa melayani pasien. Selain memberikan perawatan medis, mereka akan tahu bahwa mereka mewakili Tuhan di kamar pasien dan mereka dapat berdoa dengan pasien. Mereka mungkin mengajarkan pasien tentang Yesus dan apa saja yang mereka perlu tahu untuk dapat memperoleh hidup yang kekal."