Berita Mission Advent 21 Mei 2016-Hilang dan Ditemukan


Catatan Editor: Cerita ini menyentuh pada topik sensitif pelecehan seksual anak. Kami memasukkannya di sini untuk menggambarkan bagaimana Allah dapat mengendalikan situasi yang sangat sulit dan membawa harapan penyembuhan dan potensi untuk misi dan pelayanan.

Paul berasal dari keluarga di Samoa tapi lahir dan dibesarkan di Selandia Baru. Dia adalah yang pertama dari tujuh bersaudara. Kemudian mengetahui bahwa orang tuanya telah mendedikasikan dia kepada Tuhan berharap bahwa suatu hari ia akan menjadi seorang pengkhotbah.

Meskipun orangtuanya berniat yang terbaik bagaimanapun kehidupan Paul penuh dengan

trauma. Dimulai pada usia 6 tahun berulang kali ia mengalami pelecehan seksual oleh pamannya. Dipenuhi dengan kemarahan Paul menjadi nakal di sekolah dan kehidupan di rumah menjadi mimpi buruk saat ia mencoba bersembunyi di berbagai tempat berharap untuk melarikan diri dari pamannya. Dia tidak bisa memberitahu siapa pun tentang hal itu karena hal itu tabu.

Hidup dalam Kotak

Pada saat Paul 8 tahun ia tinggal di jalanan. Pada usia 9 tahun ia mendapatkan 4 dolar per minggu untuk membawa susu dan koran. Dalam rangka untuk mendapatkan lebih banyak uang untuk makanan ia bekerja mencabut paku dari kotak kayu besar yang digunakan untuk mobil pengiriman.

Pada siang hari ia pergi ke sekolah di maha ia diberi makan siang yang hangat dan pada malam hari ia tidur di mobil kotak. Dari waktu ke waktu Ia pergi ke kolam renang umum di mana ia bisa mandi seharga 15 sen. Hidup dalam kondisi seperti itu ia belajar bagaimana mencuri makanan, pakaian, dan barang-barang lainnya. Sebelum Paul terjun ke narkoba dan alkohol pada usia 13 tahun ia putus sekolah.

Bekerja dalam berbagai pekerjaan, entah bagaimana Paul berhasil menyokong dirinya. Pada saat ia berusia 17 ia kawin lari dengan Fiona seorang gadis yang pernah dikenalnya di gereja. Sayangnya Paul masih sering berperilaku marah dan melampiaskan pada istrinya. Olahraga menjadi bagian terbesar dari hidupnya dan Paul menghabiskan banyak waktu bermain sepak bola, tinju, dan seni bela diri.

Undangan yang Mengubah Hidup

Adalah karena lingkungan di mana sebuah undangan mengubah hidup datang kepada pasangan muda ini. Seorang teman Fiona mengundang mereka untuk belajar Alkitab di kelompok kecil. Meskipun mereka menolak beberapa kali, teman ini tidak menyerah.

"Tanpa hentinya dia mengundang kami untuk belajar Alkitab," kata Paul. "Supaya membuat dia pergi dari kami, kami menunjukkan sikap sopan santun. Kami pergi sekali dan kemudian kami tidak berhenti untuk pergi!"

Kelompok ini mempelajari kitab Roma dan hati Paul serta Fiona sangat tersentuh. "Kami akan meninggalkan tempat belajar Alkitab dan mengatakan 'pasti ada lebih banyak hal seperti ini.
Pos Misi-Konferensi Utara Selandia Baru pertama kali diselenggarakan pada tahun 1889 dan direorganisasi pada tahun 1915. Ini adalah bagian dari Selandia Baru Pacific Union Conference.
-Konferensi Utara Selandia Baru mencakup wilayah pulau utara SelandiaBarutlan memiliki keanggotaan 10.049 dan 62 gereja. -SMA Advent Auckland didirikan pada tahun 1970 dan dikenal untuk program yang sangat baik.
Injil itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan," kata Paul. "Kami bertanya-tanya apakah kami benar-benar diampuni? Dibebaskan? Apakah Tuhan benar-benar mengirim Anak-Nya untuk mati bagi saya? Kasih karunia itu terlalu besar untuk dimengerti. Hal itu mendalam. Kami terus membaca Alkitab dan menyadari bahwa "ketika kita masih berdosa" Kristus benar-benar mati bagi kita. Itu menghancurkan kami."

Berserah Penuh

Setelah berpartisipasi dalam belajar Alkitab kelompok kecil, Fiona dan Paul menghadiri KKR Advent di dekat mereka. "Sang pendeta berkhotbah dengan-bersemangat dan membuat panggilan'kata Paul. "Saya menatap terpal bangsal berusaha menahan air mata. Dua minggu kemudian saya tidak bisa menahan lagi. Saya berguling di tempat tidur dan berkata 'Tuhan saya milikmu.
Itu adalah teriakan dari hati yang dalam. Saya belum pernah begitu hancur. Saya tidak bisa. berhenti mengaku dosa dari hati saya. Lalu saya berkata kepada Tuhan, 'Saya tidak akan bangun dari lutut saya sampai saya tahu apa yang Engkau inginkan kepada saya. Kemudian Tuhan menjawab! Paul, saya ingin kamu menjadi seorang pengkhotbah. Tuhan, apakah Engkau atau saya?'Saya bertanya. Jawabannya datang lagi Paul, jadilah seorang pengkhotbah!"'

Pintu mulai terbuka dan Paul diterima dalam program teologi di Pacific Adventist University di Papua Nugini. Setelah menyelesaikan studinya ia dan Fiona kembali ke Selandia Baru di mana Paul melayani sebagai pendeta di Daerah Konferens Selandia Baru Utara selama 13 tahun.

Karunia dalam Penanaman Gereja

Terkesan untuk melanjutkan pendidikan, pintu ajaib terbuka bagi Paul dan Fiona dan anak-anak mereka pindah ke Amerika Serikat di mana Paul belajar di Fuller Theological Seminary di Pasadena California. Sementara di sana Paul dan Fiona juga bekerja keras untuk melayani generasi kedua dan ketiga Kepulauan Pasifik yang tinggal di sana. Bepergian di seluruh California selatan pasangan ini mengunjungi pendatang dari kepulauan pasifik selatan, membawa mereka makanan dan mendorong mereka. Melalui pelayanan khusus ini banyak gereja yang ditanam sudah didirikan.

Pada tahun 2010 keluarga kembali ke Selandia Baru di mana Paul sekarang menjabat sebagai direktur untuk penanaman gereja dan direktur pelayanan untuk Daerah Konferens Selandia Baru Utara. Sementara hidupnya jauh berbeda dari ketika ia masih muda Paul tidak melupakan tentang kehidupan masa lalu dan memiliki pelayanan khusus untuk menjangkau mereka yang hidup dalam kehidupan yang ia pernah jalani.

Komentar